Tembakkan Pistol Usai Pesta Arak di Bali, Fardiansyah Terancam 20 Tahun Bui

Sudah pesta arak malah ditambah lagi dengan menembak, hukuman nya jadi makin lama yaa smartizen.

Dilansir dari : https://news.detik.com/berita/d-4757381/tembakkan-pistol-usai-pesta-arak-di-bali-fardiansyah-terancam-20-tahun-bui

Fardiansyah (26) menjalani sidang terkait kepemilikan senjata api di Pengadilan Denpasar, Bali. Pria asal Talabiu, Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB), itu terancam hukuman 20 tahun penjara.

“Bahwa terdakwa Fardiansyah pada Minggu (28/7) sekira pukul 01.00 Wita bertempat di Jl Bhineka Jati Jaya XI Gang Turi, Kuta, Badung, telah melakukan tanpa hak memasukkan ke Indonesia membuat, menerima, mencoba, memperoleh, menyerahkan atau mencoba menyerahkan, menguasai, membawa, mempunyai persediaan padanya atau mempunyai dalam miliknya, menyimpan, mengangkut, menyembunyikan, mempergunakan, atau mengeluarkan dari Indonesia sesuatu senjata api, amunisi atau sesuatu bahan peledak,” kata jaksa penuntut umum I Nyoman Triarta Kurniawan saat membacakan dakwaan di PN Denpasar, Jl PB Sudirman, Denpasar, Bali, Rabu (23/10/2019).

Kasus itu bermula saat rekan-rekan Fardiansyah minum-minum di sekitaran patung kuda di Tuban pada Minggu (28/7) sekitar pukul 01.00 Wita. Saat itu, ada dua orang datang yang memarkirkan kendaraannya dan menyeletuk, ‘Ah orang minumnya udah dari tadi’ dan memicu cekcok.

“Saksi Marianus Jamput alias Rian sempat ribut mulut dengan orang tersebut. Lalu datang terdakwa yang mengendarai sepeda motor pertama dan merangkul saksi Marianus dan menjelaskan bahwa hanya salah paham saja dan saksi juga menjelaskan bahwa saksi tidak ada niat memukul dia ataupun melakukan kekerasan terhadap dia. Saksi hanya mau menanyakan atas dasar apa dia menanyakan seperti itu,” terang Triarta.

Setelah mendengar penjelasan saksi, terdakwa lalu melepaskan rangkulannya. Lalu datang saksi yang bernama Sumarlin dan merangkul saksi Marianus agar tidak ribut. Belakangan, terdakwa datang dan menodongkan senjata jenis pistol ke arah Marianus Jamput.

“Saksi Marianus membalikkan badannya dengan tujuan agar terdakwa tidak menembakkan senjata tersebut ke saksi Marianus, lalu setelah terdakwa membalikkan badan dan berjalan menjauh dari saksi. Lalu saksi Marianus langsung mengejar terdakwa tersebut dan terdakwa melarikan diri dengan memegang senjata dengan menggunakan tangan kanan,” terangnya.

Setelah terjadi pengejaran, Marianus lalu dipukul oleh teman terdakwa. Saat terdakwa berusaha kabur dengan sepeda motor yang dikendarai temannya, jaket yang dikenakan terdakwa ditarik Marianus hingga terdakwa terjatuh.

“Pada saat saksi Marianus menarik jaket bagian belakang yang dikenakan oleh terdakwa, senjata yang dipegang olehnya meledak, tapi saksi Marianus tidak mengetahui ke mana arah tembakannya. Kemudian saksi Marianus melipat tangan kanan terdakwa dan senjata yang dipegang terlepas dan saksi Marianus injak dengan kakinya, lalu saksi Marianus menyuruh saksi Felisianus Misarino Ampung untuk menjauhkan senjata tersebut,” ujar Triarta.

Terdakwa juga mengakui membeli senjata api jenis pistol tersebut dari pria yang bernama Hama Jara sekitar 4 bulan lalu di Desa Talabiu, Bima, NTB, seharga Rp 500 ribu. Selain pistol, terdakwa mendapatkan empat butir peluru. Senpi itu dibawa ke Bali dengan cara disembunyikan dalam karung beras saat terdakwa naik bus dari Bima ke Bali.

“Bahwa terdakwa membeli senpi rakitan jenis pistol dari seseorang laki-laki yang bernama Hama Jara tersebut hanya untuk menjaga diri saja tidak ada maksud lain,” terangnya.

“Bahwa terdakwa Fardiansyah tidak mempunyai izin dari pemerintah untuk menguasai, membawa, dan menyimpan senjata api miliknya tersebut,” sambung Triarta.

Atas perbuatannya Fardiansyah disangkakan dengan Pasal 1 ayat (1) Undang-Undang Darurat Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 1951.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *