Perjuangan Siswa Pulau Kojadoi Flores, Seberangi Jembatan Batu untuk Sekolah

Ini patut diapresiasi dan seharusnya pihak sekolah lebih memperhatikan siswanya yang jauh dari sekolah, supaya anak itu lebih giat dalam belajar.

Dilansir dari: https://regional.kompas.com/read/2019/10/28/07371121/perjuangan-siswa-pulau-kojadoi-flores-seberangi-jembatan-batu-untuk-sekolah?page=2

Siswa-siswi sekolah dasar (SD) dan sekolah menengah pertama (SMP) di Pulau Kojadoi, Desa Kojadoi, Kecamatan Alok Timur, Kabupaten Sikka, Flores, NTT harus membelah laut menuju sekolah yang terletak di pulau Besar. 

Jarak dari Pulau Kojadoi ke Pulau Besar itu sekitar 1 kilometer. Kedua pulau ini dipisahkan laut dangkal dan kecil di Teluk Maumere. 

Untuk memudahkan akses di antara 2 pulau ini, warga membangun jembatan batu di tengah laut dangkal. Jembatan batu itu dibangun warga bersama TNI Kodim 1603 Sikka sekitar tahun 1960-an. 

Jembatan batu itulah yang menjadi sarana transportasi antara warga Pulau Besar dan Pulau Kojadoi.

Dengan adanya jembatan batu itu, warga, termasuk para pelajar dari Pulau Kojadoi berangkat menuju Pulau Besar tidak lagi menyeberangi laut dengan bantuan sampan. 

Setiap hari, para pelajar dari Pulau Kojadoi melewati jembatan batu yang panjangnya 680 meter itu menuju sekolah yang terletak di Pulau Besar. 

“Tiap hari kami pergi ke sekolah lewat jembatan batu ini. Jembatan batu ini sangat memudahkan akses kami ke sekolah. Kalau tidak ada jembatan ini, kami pasti pergi dan pulang sekolah naik sampan,” ungkap Indriani, salah seorang siswi SMPN 4 Kojadoi kepada Kompas.com, Kamis (26/10/2019).

Indriani mengaku, berangkat ke sekolah melewati jembatan batu itu ada susah dan senangnya. 

Indriani menuturkan, tak jarang ia dan kawan-kawan jatuh tergelincir batu jembatan. 

“Sering jatuh juga. Terlebih pas kita pergi terlambat ke sekolah. Kita kan buru-buru, malah jatuh karena salah injak batu. Batu-batunya masih banyak yang goyang saat diinjak,” tutur Indriani. 

Indriani mengaku, meski harus melewati jembatan batu itu, ia dan kawan-kawan tetap semangat berangkat ke sekolah untuk mengenyam pendidikan. 

Perjuangan melewati jembatan batu setiap hari adalah tantangan masa depan mereka. 

“Jalan di atas jembatan batu ini nanti jadi cerita dan pengalaman kami yang tak terlupakan sampai kapan pun. Jembatan ini yang membuat kami bisa belajar di bangku sekolah. Jembatan batu ini yang membuat kami semangat ke sekolah dan belajar dengan tekun,” ungkap Indriani. 

Terkait rencana Pemerintah Kabupaten Sikka untuk mengaspalkan jembatan batu itu, Indriani mengaku tidak setuju. 

Menurut Indriani, biarkan jembatan batu itu tetap seperti sedia kala. Tetap mempertahankan keasliannya. 

“Jangan buat aspal. Tetap seperti ini saja. Tidak bagus dan tidak unik lagi kalau diaspal. Kalau diaspal nanti kan tidak bagus lagi,” ungkap Indriani.

Ia mengungkapkan, jika pemerintah punya niat menata jembatan batu itu, yang perlu dibenahi adalah permukaannya. 

Permukaan jembatan dibuat rata agar para pelajar tidak jatuh tergelincir batu saat berangkat ke sekolah. Juga, kiri-kanan jembatan perlu dibuat pagar pengaman untuk menjaga keselamatan anak-anak saat ke sekolah. 

“Pagarnya diharapkan dibangun dari bahan-bahan alam. Tentu boleh dibenahi, tetapi keaslian jembatan batu ini tetap harus dipertahankan,” ungkap Indriani.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *