Beginilah Kondisi Kuburan Mbah Pani yang dibongkar Setelah 5 hari jalani Topo Pendem

semoga tidak terjadi apa-apa  sama mbah pani ya smartizen …

dilansir  : https://kalteng.tribunnews.com/2019/09/21/lima-hari-jalani-topo-pendem-liang-kubur-mbah-pani-dibongkar-begini-kondisinya

TRIBUNKALTENG.COM, PATI – Lima hari setelah menjalani ritual, liang kubur yang menjadi tempat Supani alias Mbah Pani (63), menjalani Topo Pendem, Jumat (20/9) sore pukul 16.30 WIB, dibongkar.

Warga Desa Bendar RT 3 RW 1 Kecamatan Juwana, Pati, Jawa Tengah, ini sebelumnya menjalani Topo Pendem sejak Senin.

Sedianya, liang tersebut akan dibongkar setelah magrib. Namun pembongkaran dilakukan lebih awal sekitar satu jam dari rencana sebelumnya.

Dibantu warga sekitar, keluarga Mbah Pani membongkar liang kubur pertapaan menggunakan cangkul.

Setelah papan penutup liang tampak, pipa paralon yang digunakan Mbah Pani untuk saluran pernapasan dan berkomunikasi dengan keluarga disingkirkan.

Ketika papan penutup dibuka, Mbah Pani terbaring menyamping menghadap kiblat, dengan posisi tangan kanan berada di bawah. Ia masih mengenakan kain kafan, sebagaimana orang dikubur.

Mbah Pani tampak pucat dan lemas.

Keluarga segera turun ke liang untuk memberi minum dan makanan kepada Mbah Pani.

Sebelum Mbah Pani beranjak dari lokasi, keluarga juga memandikan Mbah Pani dengan air bunga.

Setelahnya, kain kafan yang masih dikenakan Mbah Pani dilepaskan, kemudian ia diselimuti sarung.

 

Dibantu keluarga, Mbah Pani lalu keluar dari liang pertapaan.

Begitu keluar, Mbah Pani berpelukan dengan istrinya sambil bertangisan.

Setelah itu, tim medis dari Puskesmas Juwana memeriksa kondisi kesehatan Mbah Pani.

Meski tidak makan dan minum selama 5 hari 5 malam menjalani topo pendem, dari hasil pemeriksaan, Mbah Pani dinyatakan sehat.

“Kondisinya bagus. Pernapasan dan tensinya juga bagus,” ujar Hardi Widiyono, anggora tim medis.

Ia menyebut, saat keluar dari liang kubur, Mbah Pani memang lemas.

Hal ini menurutnya wajar. Sebab, Mbah Pani tidak makan dan minum selama lima hari.

“Apalagi selama di dalam bisa dikatakan kekurangan cairan,” katanya.

Menurut Joko Wiyono, Adik ipar Mbah Pani, percepatan pembongkaran liang pertapaan Mbah Pani, tidak diduga.

Hal ini disebabkan kondisi papan penutup liang pertapaan sebagian mulai retak.

 

“Jadi keluarga khawatir kalau ada hal-hal yang tak diinginkan. Yang di dalam juga khawatir,” ucapnya.

Mbah Pani kemudian berganti pakaian dan pamit untuk salat magrib.

Ia mengaku masih pusing dan belum kuat bicara banyak.

 

Setelah isya, para tetangga diundang untuk Manaqiban di rumah Mbah Pani.

Menurut keluarga, Mbah Pani bersedia memberi sedikit keterangan usai pelaksanaan manaqiban.

Joko Wiyono, adik ipar Mbah Pani (63), mengatakan air tanah terus keluar di liang kubur tempat Mbah Pani melakukan ritual tapa pendem.

Pihak keluarga secara rutin menguras air menggunakan pompa air setiap 10 menit sekali.

Joko menyebut, pada awalnya air tanah tersebut asin seperti air laut.

Namun, beberapa saat setelah liang kubur digunakan Mbah Pani untuk bertapa, air disebut berubah tawar.

“Awalnya asin, karena di sini memang dekat laut.

 

Tapi kemudian berubah jadi tawar setelah digunakan Mbah Pani untuk topo pendem,” katanya.

Joko mengaku sempat mencicipi air tanah yang keluar dari liang kubur Mbah Pani dan rasanya tawar, seperti berasal dari sumber mata air asli.

“Rasanya itu seperti air sumber asli, nggak seperti air matang, tapi seperti air yang di mata air begitu, khas dan segar. Saya minum berkali-kali,” jelasnya.

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *